HAHoe FH USK

Haba Aneuk Hukoem (HAHoe) merupakan salah satu UKM yang berdiri di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh merupakan museum yang di bangun setelah tragedi Tsunami yang menimpa Aceh

Fakultas Hukum Unsyiah

Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Jumat, 29 Mei 2015

SEMINAR "CHILDREN IN ARMED CONFLICT”

(suasana didalam ruang auditorium fakultas hukum universitas syiah kuala), foto: si_cen


Banda Aceh, kamis 28 mei 2015 ruang Auditorium Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala hari ini diadakan seminar mengenai “JARING MASUKAN DAERAH UNTUK PENYUSUNAN LAPORAN AWAL OPSIONAL PROTOCOL TO THE CONVENTION ON THE RIGHTS OF THE CHILD ON THE INVOLVEMENT OF CHILDREN IN ARMED CONFLICT”, yang diadakan oleh pihak kemenlu dan beberapa instansi bersangkutan, acara ini di hadiri oleh narasumber-narasumber terkemuka diantaranya: Arry Ardanta Sigit Direktur Kerjasama HAM, Grata Endah Wendaning Tyas Kasubdit HAK Kelompok Rentan, Maydian Werdiastuti Asisten Deputi Penanganan Masalah Sosial Anak, Ardiansyah Kadiv KUMHAM Aceh, dan Zulfikar Muhammad Perwakilan NGO HAM Aceh.

Grata Endah Wendaning Tyas mengatakan, “untuk melaksanakan hal ini pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, pemerintah memerlukan bantuan dari masyarakat untuk merealisasikannya”. Beliau juga menambahkan, “hal ini merupakan instrument tambahan yang paling cepat untuk dirativikasi oleh Negara”.

Yang menarik dari seminar ini, setiap narasumber diberikan waktu lebih kurang 15 menit untuk memaparkan hasil dan rencana-rencana apa yang akan mereka lakukan dikemudian hari berdasarkan instansi-instansi masing-masing, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab seperti biasanya.


Acara yang di moderator oleh prof. DR. Adwani, S.H., M.Hum. mendapat antusias yang cukup banyak bukan hanya dari para tamu undangan tapi juga para audience seperti: Akademisi, Aktivis, Mahasiswa, Lembaga-lembaga pemerintahan, Elemen-elemen penting masyarakat, dan Instansi-instansi yang terkait.

Editor: si_cen


Rabu, 27 Mei 2015

MENGENAL LEBIH DEKAT “SI PEMIKAT KECIL" DARI KAMPUS MERAH

(“si pemikat kecil” atau para calon ketua BEM yang sedang melakukan interaksi sebelum pemaparan karya tulis), -foto: ayub


Banda Aceh, kamis 21 mei 2015 merupakan hari yang penting bagi para balon-balon DPM-FH dan BEM-FH. Pada kesempatan itu kami tim dari HAHoe! Diberi kesempatan untuk mewawancara dua balon terkuat untuk calon BEM-FH yang baru, yaitu Aditya Rivaldi dan Muhammad Aqil terkait pandangan mereka satu sama lain tentang kapasistas dan harapan yang sangat mereka inginkan.

HAHoe!            : Bagaimana perasaan anda menjadi salah satu dari dua wakil kuat sebagai pemegang kekuasaan diperiode baru?

A. Rivaldi         : secara pribadi saya pikir perasaan saya tidak begitu nyaman karena, pesaing ataupun dari pihak yang lain adalah teman dekat. namun demikian karena mungkin memang kawan-kawan percaya jadi saya pikir ya kita coba bahagia-bahagiakan diri.

M. Aqil   : yang pertama perasaan saya deg-degkan, tidak optimis ataupun pesimis karena sekarang pemilihan kita hanya punya dua calon ,itu sama dengan kita adu penalty cuma ada dua pilihan tidak ada pemecah suara.

HAHoe!            : Bagaimana tanggapan anda dengan calon lawan kalian ini?

A. Rivaldi         : saya pikir saudara aqil luar biasa, beliau memiliki kesiapan yang kuat dan beliau memiliki kesiapan yang bagus, dan saya pikir beliau salah satu kandidat yang sangat cocok memimpin BEM-FH.

M. Aqil   : calon yang bagus, beliau mengerti soal gerakan dan juga orang yang mengerti soal organisasi namanya juga besar di organisasinya sendiri, lawanlah.

HAHoe!            : Apa yang anda lihat dari mahasiswa hukum yang sekarang atau apa yang mereka perlukan sekarang?

A. Rivaldi         : saya pikir, yang mahasiswa fakultas hukum sekarang sesosok pemimpin yang mampu mengatur moralitas mengapa demikian bukan karena kekurangan moral tetapi mahasiswa fakultas hukum karena tidak ada yang mengontrol moralnya sehingga banyak kegiatan-kegiatan yang diluar moralitas yang biasa yang sebenarnya ditolak di masyarakat.

M. Aqil   : lebih apatis, nampak dari contoh BEM-BEM tahun lalu yang membuat acara itu hanya sebahagian dari mahasiswa aktif 1500 orang itu paling ada ratusan cuma yang ikut tidak sampai seribu yang ikut, makanya saya mengatakan mahasiswa kita mahasiswa yang apatis.

HAHoe!            : Ketika anda terpilih menjadi ketua BEM-FH yang baru nanti, kira-kira langkah apa yang pertama kali anda akan lakukan?

A. Rivaldi         : saya pikir, langkah yang pertama yang saya laksanakan ketika menjadi ketua BEM, saya mau mencoba lelang kabinet, karena saya pikir kabinet itu tidak bisa saya yang menentukan karena kadang-kadang ada orang yang sahabat kita tapi tidak bisa memimpin ngapain kita ambil sahabat kita makanya kita tetap pilih orang-orang yang memang bagus, terserah mau dia dari partai yang mana, mau dia dari orang yang mana, mau dia musuh  ini mau dia musuh itu selama dia bagus kita akan pakai dia.

M. Aqil   : open recruitmen untuk penyusunan kabinet, itu yang pertma kali bakal saya lakukan, tanpa kabinet ketua bukan apa-apa.

HAHoe!            : Terakhir, apabila nanti anda tidak berhasil menang, apa harapan anda untuk ketua BEM-FH periode ini?

A. Rivaldi         : harapan saya yang terbesar buat aqil adalah saya berharap dia dapat melakukan revolusi mental dan aklhak unutk fakulktas hukum .

M. Aqil   : ya tetap mengusung yyang namanya persatuan, membngun nggk ada lagi perpechana nggk ada lagi bertndak sesuai dengan kepntingan tapi bertindfak sesuai kbuthan, berfifkir secara hologen untuk kebuthan masyarakat kampusbukan cuma buat organisasi semata saja, tapi kita akan tetap bantu!

semoga saja harapan mereka bisa terealisasikan dengan baik dan benar, bagi sang penguasa periode baru nanti diharapkan melaksanakan semua janji yang mereka ucapkan. masyarakat fakultas hukum merindukan pemimpin yang berada di garis depan, bukan yang berkoar-koar dibelakang penderitaan orang lain. 

Editor: si_cen


Kamis, 21 Mei 2015

Detik-detik pelepasan “si BOM AKTIF” QANUN JINAYAH

\
(suasana didalam ruangan seminar kemarin, Aula Fakultas Hukum Unsyiah),. Taken by: Ayub

Banda Aceh – Hari ini (20/5/2015), Forum Komunikasi Aneuk Hukum (FORKAH) melaksanakan talk show dengan tema “detik-detik pelaksanaan qanun No. 6 / 2014 tentang jinayah”. Acara yang didukung oleh Dinas Syariat Islam Aceh dan Kejaksaan Negeri Banda Aceh ini dimoderatori oleh Oktavia Dwi Rahayu dengan menghadirkan narasumber, Dr. H. Badrul, LC., M.A. (staff pengajar FH UIN), Dr. Munawar A. Djalil, M.A. (kabid hukum dinas syariat islam), Bakti, S.H., M.Hum. dan Khairani, S.H., M.Hum. sebagai narasumber dari Fakultas Hukum Unsyiah.

Acara yang dihadiri kurang lebih 120 orang peserta dari berbagai sekolah dan universitas ini membahas tentang implementasi dari qanun no.6 / 2014 tentang hukum jinayah dalam lapisan masyarakat. Dr. Badrul, L.C., M.A. menjelaskan, “dalam menerapkan qanun ini didalam masyarakat harus dilihat dalam masyarkat itu sendiri, apakah cocok untuk diterapkan didalam masyarakat atau tidak”. Bapak Bakti, S.H., M.Hum. menambahkan, “kita juga harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi jangan nanti masyarakat salah kaprah terhadap qanun ini, perlu adanya sosialisasi”.

Talk show interaktif yang membahas pasal demi pasal yang ada didalam qanun no.6 /2014 tentang hukum jinayah dan juga kaitan-kaitannya dengan qanun lain seperti qanun no. 11 /2002, qanun no.12,13,14 tahun 2003. Ibu Khairani, S.H., M.Hum. mengatakan, “ didalam menjalankan suatu undang-undang didalam masyarakat harus dilihat juga hukum adat yang berlaku, terutama di daerah Aceh ini”. Dr. Munawar A. Djalil, M.A. juga menambahkan, “pihak pemerintah mengakui adanya kekurangan pada qanun jinayah tersebut dan perlu untuk direvisi, harapan saya nanti sampai datangnya hari dimana qanun tersebut dilaksanakan saya membutuhkan dan pendapat dari segala pihak untuk memperbaiki isi dari qanun tersebut”.

Acara yang diketua panitiai saudara Rifandi Damanik ini mendapat respon menarik dari ketua UKM FORKAH, “kegiatan ini bukan hanya talk show melainkan sosialisasi bahwa sanya qanun jinayah ini perlu di perkenalkan kepada mahasiswa maupun siswa atau pelajar sekalipun”, terakhir beliau mengatakan agar kawan-kawan FORKAH dapat membuat acara yang lebih lagi yang tidak hanya menyinggung qanun jinayah tapi juga hal lain seperti undang-undang yang saat ini ada ataupun berjalan, sampai kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan presiden yang sekarang maupun yang kedapannya.



penulis: may
Editor: si_cen

Sabtu, 09 Mei 2015

KSR PMI UNIT 01 UNSYIAH GELAR KEGIATAN DONOR DARAH




PERANGI THALASSEMIA

BANDA ACEH, donor darah lanjutan, agenda memperingati hari thalassemia sedunia yang di adakan oleh Korps Sukarela PMI Unit 01 Unsyiah, selama dua hari yang bertempat di pelataran pustaka unsyiah telah mengumpulkan sebanyak 85 kantong darah, Jumat (08/05/15)
“ thalassemia adalah suatu kondisi dimana penderita mengalami anemia berat, yang disebabkan tidak mampunya tulang belakang memproduksi sel darah merah, sehingga penderita membutuhkan tranfusi darah dalam waktu yang berkala” tutur Dr. Ratna Sari Dewi salah satu staf Unit Donor Darah.

"Kader Baru Harapan Baru" Mapala Hukum Unsyiah

Banda Aceh – Hari ini (Jum'at 8 April 2015-red) sekitar pukul 10:00 WIB, para peserta Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (MAPALA FH-UNSYIAH) yang ke-XV resmi dilepas oleh PD III FH-UNSYIAH, Mukhlis S.H.,M.Hum di halaman Fakultas Hukum Unsyiah. Diksar kali ini mengangkat Tema “Membentuk Kader Yang Bertanggung Jawab Terhadap Pelestarian Lingkungan Melalui Alam”. Kegiatan ini sempat terhenti sementara dikarenakan beberapa kendala yang dialami panitia yang bersangkutan dan kemudian dilanjutkan kembali setelah kendala tersebut teratasi.

Anggota dan Kader baru Mapala Hukum Unsyiah


           Kegiatan ini juga mendapat respon positif dari PD III FH-UNSYIAH, Mukhlis S.H.,M.Hum, “Pendidikan dasar ini sangat penting, oleh sebab itu saya sempat heran, mengapa UKM MAPALA belum melaksanakannya sedangkan UKM-UKM yang lain sudah”. Beliau juga menambahkan bahwa setiap pererkrutan anggota baru memerlukan perkenalan UKM, dan diperkenalkan juga maksud dan tujuan dari UKM tersebut. “MAPALA yang berhubungan dengan alam, bukan hanya ada di dalam bahagian kulikuler kita, tapi mencintai alam merupakan amanat dari orang yang beragama islam yang masuk ke dalam hubungan 3 (tiga) aspek linkungan yang dimana salah satunya hubungan manusia dengan alam” beliau menambahkan.

           Kegiatan yang diketuai oleh Nailul Authar Hasri selaku ketua panitia Diksar akan diadakan selama lebih kurang 8 (delapan) hari ini sudah benar-benar siap dan matang, harapan besar juga diberikan oleh ketua MAPALA periode 2015/2016 Muhammad Azhari Akhirullah supaya dapat bertanggung jawab baik kepada alam dan lingkungan di Aceh maupun Indonesia dan juga bertanggung jawab kepada kampus Fakultas Hukum, dan tentu saja kepada Universitas Syiah Kuala, beliau juga menambahkan "Untuk diksar yang ke-XVI nanti karakter yang di inginkan adalah orang-orang yang mampu bergerak langsung dengan lingkungan, yang terjun langsung ke lapangan, lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan lainnya".

          Antusias juga ditunjukkan oleh para senior dari UKM ini dengan turut hadir pada hari ini dan beberapa tamu undangan lain seperti ketua BEM FH UNSYIAH ,para kolega-kolega mapala antar Fakultas maupun Univesrsitas dan para tamu undangan lainnya. Terakhir PD III FH UNSYIAH sedikit menambahkan "Aspek disiplin dan tanggung jawab merupakan partikel yang penting, kegiatan mahasiswa lain yang menyangkut tentang lingkungan itu harus ada di fakultas Hukum". 

        “Eksistensi MAPALA itu sangat penting di Fakultas Hukum, di dalam kulikuler kita mempunyai Hukum Lingkungan dan itu harus kita bina salah satunya ya dengan UKM MAPALA ini. Jadi, sebagai mahasiswa etika tetap harus dijaga dan saya rasa akhir-akhir ini sudah mulai tertata dengan baik, dengan beberapa perubahan-perubahan di organisasi yang mulai berjalan dengan baik juga, kita akan mendukung setiap kegiatan yang akan diadakan oleh MAPALA khususnya” tangkas beliau. 


Penulis : Denny Chandra
Editor   : Miftah Ananta Yusren

Jumat, 01 Mei 2015

Peringati Hari Bumi 22 April 2015, Mapala Hukum Unsyiah lakukan kegiatan Nonton Bareng Film Dokumenter tentang Lingkungan



Banda Aceh - Malam 22 April 2015 Mapala Hukum Unsyiah mengadakan kegiatan nonton bareng film dokumenter yang bertemakan tentang lingkungan yang berjudul “Dilarang Mati di Tanah Ini” dan “Tajaga Uteun, Tapeulindong ie” di barengi dengan dialog interkatif dengan salah satu dosen bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Unsyiah, yaitu Bakti siahaan S.H, M.Hum. akademisi yang juga aktif di kegiatan pelestarian lingkungan.

Seperti kita ketahui Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April dan pertama sekali di peringati di Amerika oleh Gaylord Nelson, seorang pengajar lingkungan hidup pada tahun 1970. Peringatan ini kemudian terus berlanjut sampai dengan sekarang dan diperingati oleh dunia Internasional. Nonton Bareng yang dilaksanakan oleh Mapala Hukum Unsyiah di kantin Fakultas menceritakan tentang sebuah kelompok masyarakat di daerah kuala seumayam, kabupaten Nagan Raya yang pada awalnya memiliki tanah seluas 4 Ha namun kemudian direlokasi ke wilayah perusahaan Kalista Alam dengan alasan yang tidak jelas. Namun sampai sekarang tanah yang 4 Hektar tersebut tidak jelas kemana arahnya, sampai-sampai ketika ada masyarakat yang meninggal tidak bisa dikebumikan di lokasi tersebut dan apabila tetap dilaksanakan pemakaman masyarakat harus membayarnya antara 2 sampai 5 juta untuk mengganti lahan sawit PT Kalista Alam.

Film selanjutnya yaitu bercerita tentang alih fungsi kawasan hutan, dimana lokasi pembuatan film tersebut adalah di daerah mane, kecamatan Gempang kabupaten Pidie. Film ini lebih menekankan bagaimana kesewenangan pemerintah yang tidak menghargai tentang hukum adat yang berlaku di kawasan tersebut. Hukum adat itu adalah soal pelarangan penanaman pohon sawit. Menurut ketua adat gampong tersebut sawit dan ganja haram hukumnya ditanam di gampong tersebut dan jika pemerintah tetap memberikan ijin menanam sawit dilokasi tersebut, berarti pemerintah juga membolehkan ganja di tanam.

Bakti Siahaan, S.H, M.Hum dalam pandangannya mengatakan apresiasi terhadap kawan-kawan Mapala Hukum Unsyiah yang telah mengadakan kegiatan peringatan Hari Bumi ini. Kegiatan ini bermanfaat untuk manghidupkan kembali semangat mahasiswa kampus Unsyiah umumnya dan Fakultas Hukum khususnya, dimana akhir-akhir ini menurut beliau mahasiswa kehilangan ideologinya. Menurut beliau kerusakan lingkungan adalah kasus kejahatan HAM berat, dimana dilakukan secara sistemik, berlanjut, dan memberikan dampaknya yang luas.

Kegiatan Hari Bumi 22 April 2015 yang diadakan oleh Mapala Hukum Unsyiah ini juga diselingi oleh pembacaan puisi oleh seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah, Anugrah Dwi Bharita. Dan di akhir acara ada satu ungkapan closing statement dari Muhammad Aqil selaku moderator pada sesi diskusi “bukan hanya orang hidup yang memerlukan tanah, tetapi orang mati juga memerlukan tanah dan dimana Negara ketika ada rakyatnya ada yang mati tapi tidak memliki tanah pemekaman”. Apakah kondisi ini layak dikatakan merdeka ? lanjut Muhammad Azhari, ketua umum Mapala Hukum Unsyiah.

Kegiatan ini turut mengundang BEM Unsyiah, DPM Unsyiah, MPM Unsyiah, seluruh BEM dan DPM Fakultas yang ada di Unsyiah, semua UKM yang ada di Fakultas Hukum Unsyiah, KPA, dan seluruh Mapala yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar.



Penulis : M. Azhari Akirullah
Editor : Miftah Ananta Yusren