Jurnalistik
mempengaruhi kita dalam melihat sebuah pemberitaan. Jurnalistik dapat
mengkonstruksi atau membentuk relaitas yang sebenarnya. Sesuatu yang salah
dapat dipandang benar ketika dibentuk sebagi kebenaran oleh media, dan
sebaliknya. Perkembangan jaman yang begitu pesat, pertumbuhan teknologi yang
cepat, diperkirakan akan mematikan keberadaan jurnalistik, sehingga muncul
istilah ”Zombie Institution”.
Tanpa disadari, realitas yang ada di sekeliling
kita saat ini sebetulnya adalah sebuah konstruksi dari media massa. Sebagai
contoh, kasus pimpinan kpk yang terkena suap. Sampai detik ini publik
dihadapkan pada kebingungan, pemeberitaan manakah yang benar. Saat CDR dan BSR ”dikriminalisasi”
karena diduga melakukan pemerasan terhadap Anggodo, maka media berlomba2
memberikan dukungan keberpihakan, sampai2 dukungan ini menjadikan masyarakat
seluruh Indonesia yakin bahwa keduanya tidak bersalah. Belum lagi kasus
antasari, dll. Teori konstruksi media ini dipelopori oleh Peter L Berger.
Kemajuan
teknologi, berimbas pada pertumbuhan media baru, etik dan aturan jurnalistik
yang sudah lama digunakan dan ditaati lambat laun menjadi tergerus dan
terhilangkan. Oleh karena pertumbuhan media baru harus diiringi dengan
penguatan jurnalistik yang ada. Sebab jika tidak, yang ada adalah kebohongan
dan adu domba. Karena jurnalistik memiliki peranan penting dalam membentuk
tatanan masyarakat yang ideal, maka mempelajari jurnalistik mutlak harus
dilakukan oleh setiap orang.
Manusia telah hidup di tiga era yang berbeda, era
pertanian, industri dan era informasi. Yang membedakan dari ketiga era adalah
sumber penghidupan utama. Jika pada era pertanian, ketahanan hidup seseorang
sangat ditentukan oleh luasan lahan pertanian yang dimiliki, maka pada era
indutri, ketahanan hidup seseorang ditentukan oleh seberapa pandi manusia
mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau jadi, dengan menggunakan
mesin industri yang ada. Berbeda dengan kedua era sebelumnya, di era informasi,
ketahanan hidup seseorang ditentukan oleh seberapa bijak seseorang menyikapi
setiap informasi yang diperoleh, sebab informasi akan mengalir deras melalui
bermacam kanal yang ada. Disinilah kemudian dibutuhkan jurnalistik sebagai
filter setiap informasi yang ada.
Jurnalistik memiliki fungsi beragam bagi setiap
orang. Bagi pengguna media, jurnalistik berfungsi sebagai filter untuk memilah
berita baik dan buruk, sehingga pengguna tidak sampai salah dalam mengkonsumsi
sebuah berita. Sedang bagi jurnalist, jurnalistik sebagai rambu dalam
memproduksi sebuah berita, sehingga ketika akan disajikan kepada masyarakat
adalah berita yang benar-benar layak untuk dikonsumsi dan dapat
dipertanggungjawabkan. Jika seorang jurnalis tidak berpegang teguh pada etik
dan rambu jurnalistik yang ada, maka yang disajikan hanyalah kebohongan, fitnah
dan adu domba, dan yang terjadi justru kekacauan di tengah masyarakat.
Jurnalistik yang erat kaitannya dengan media dan khalayak, menjadikan daya tarik
tersendiri bagi pemilik media, bagi mereka, jurnalistik dan media dapat
digunakan sebagai lahan mencari keuntungan, bahkan untuk membangun kekuasaan.
Dengan perolehan iklan yang begitu besar, maka keuntungan yang didapat pun akan
berlimpah, sehingga tidak jarang diantara pemilik media yang mengesampingkan
nilai-nilai jurnalistik yang benar hanya untuk meraih iklan dan keuntungan yang
berlimpah.
Memahami Jurnalistik dengan baik menjadi kunci
untuk tetap bertahan di era informasi. Pada era ini arus informasi mengalir
begitu deras melalui berbagai kanal, apabila tidak dicerna dengan baik maka
yang ada hanyalah kesesatan berita dan kebohongan.
sumber: Amar Suteja
sumber: Amar Suteja









0 komentar:
Posting Komentar