Aditya Gunawan
26 December 2014 - 09:15 am
Tak akan pernah bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya mengalami suatu kondisi di mana kita tidak bisa menolong orang yang kita cintai karena kita juga harus menyelamatkan diri sendiriHARI ini, Jumat 26 Desember 2014 tepat 10 tahun bencana super dahsyat tsunami menghantam “Bumoe Seuramoe Mekkah”.
Jika kita mengenang kembali kejadian tersebut mungkin sebagian bahkan keseluruhan masyarakat Aceh yang merasakan dampak langsung bencana tsunami. Masih terbersit rasa sakit yang mendalam baik bagi mereka yang kehilangan harta benda dan lagi mereka yang kehilangan sanak saudaranya, anak-anak kehilangan orang tuanya, istri kehilangan suaminya serta keponakan yang kehilangan pamannya.Berat memang menanggulangi dampak yang ditimbulkan setelah tsunami terjadi, baik itu di bidang perbaikan infrastruktur serta pemulihan ekonomi menjadi normal kembali. Namun yang paling berat dari itu semua ada pemulihan psikologis yang menghantui sebagian masyarakat Aceh yang melihat langsung bencana tsunami tersebut. Sangat sulit untuk melupakan bagaimana ketika seorang adik melihat abangnya sendiri dibawa hanyut oleh gelombang besar maha dasyat tsunami, dan yang paling sulit adalah ketika sang ibu harus merelakan anaknya tersapu gelombang besar tsunami.Tak akan pernah bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya mengalami suatu kondisi di mana kita tidak bisa menolong orang yang kita cintai karena kita juga harus menyelamatkan diri sendiri. Mungkin itulah bukti nyata dari hal yang selalu disampaikan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya. “Akan datang masanya ketika kita tidak bisa menolong satu sama lain karena kita harus menyelamatkan diri sendiri (nafsi-nafsi)" dan itulah kondisi ketika kiamat nanti. Tak bisa terbayangkan bagaimana kita di hari nanti, bila dibandingkan dengan apa yang kita rasakan ketika tsunami.Namun rasa sakit tersebut telah berlalu 10 tahun yang lalu, jika melihat Aceh sekarang ini orang-orang sudah mulai terbiasa dengan suasana baru pembangunan merata di mana-mana.
Walaupun untuk sebagian daerah baru memulainya, namun permasalahannya bukanlah di pembaharuan infastruktur ataupun pemulihan kondisi ekonomi, tetapi apakah dampak yang ditimbulkan oleh bencana besar tersebut masih meninggalkan bekas di lubuk hati masyarakat aceh sekarang ini.Aapakah kita masih mengingat bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang, orang yang kita cintai, memang benar seniman Crishye dalam lirik lagunya mengatakan “Badai pasti berlalu”, namun apakah badai yang telah berlalu tidak meninggalkan apa-apa pada diri kita. Seharusnya apa yang kita rasakan 10 tahun lalu merupakan suatu pengingat, suatu pertanda bahwa yang Rasulullah katakan benar adanya “bumi sudah tua, jika diibaratkan bumi ini ibarat seorang wanita tua yang dipakaikan pakaian bagus.”Seharusnya peringatan dari Rasulullah tersebut bisa menjadi pengingat pada kita untuk tetap menjaga bumi kita, tanah kita, tempat kita berpijak. Terlepas dari pada itu seharusnya peringatan tersebut bisa menjadi pertanda pada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada yang mahakuasa Allah SWT, dan menjadi peringatan bagi kita untuk belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu. Alquran telah menceritakan kepada kita semua hal yang terjadi pada umat-umat terdahulu bagi mereka yang menentang perintah Allah akan ada balasannya padanya.Momentum 10 tahun tsunami ini bisa menjadi suatu refleksi bagi kita apakah kita sudah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya atau malah sebaliknya. Semoga di 10 tahun setelah bencana tsunami ini masyarakat Aceh tersadar serta tetap ingat dan harus mengingatkan kepada generasi selanjutnya, bahwa pernah ada suatu bencana yang mengemparkan hati seluruh masyarakat di dunia yakni bencana super dasyat yang di sebut tsunami.[]Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.Bergiat di UKM Haba Aneuk Hukoem.
- See more at: http://www.atjehpost.co/m/read/17759/Napak-Tilas-10-Tahun-Tsunami#sthash.pyeoH9uF.dpuf









0 komentar:
Posting Komentar