Senin, 14 September 2015

PERSEMBAHAN UKM FORKAH UNTUK WIDJI TUKUL


Banda aceh – rabu 9 september 2015 sekitar pukul 20.00 WIB, Forum Komunikasi Aneuk hokum (FORKAH) mengadakan kegiatan pembacaan puisi yang di dedikasikan untuk widji tukul, dan di barengi dengan dialog interaktif dengan Pemateri Hendra Syahputra yang berjabat sebagai Koordinator kontras. 

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963 – meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui, hilang sejak diduga diculik, 27 Juli 1998 pada umur 34 tahun) dia adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru dengan syair puisi dan sajak-sajak suara ia mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui rimbanya, dinyatakan hilang Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga kini, Kerusuhan pada Mei 1998 telah menyeret beberapa nama aktivis kedalam daftar pencarian orang hilang.

Hasyimi Pradana sebagai ketua kegiatan acara, mengatakan pembacaan puisi ini yang  di dedikasikan untuk wiji tukul, bertujuan untuk membagun jiwa solidaritas dan jiwa kritis mahasiswa untuk bersama peduli dan kritis terhadap masalah-masalah social termasuk pelangaran ham.

Ketua BEM FH USK Muhammad Aqil menambahkan lagi dalam kata sambutanya mengatakan sangat mengapresiasi terhadap kegiatan ini. Dia beranggapan bahwa pelangaran HAM adalah kejahatan yang paling berat. aqil selaku ketua BEM terpilih periode ini mengajak mahasiswa untuk berperan aktif dan kritis dalam membasmi pelangaran HAM . "kritis bukan berarti sadis. Kritis juga bukan berarti harus anarkis. Tapi kritis adalah seni di mana kita mengeluarkan apresiasi expresi kita terhadap sesuatu hal". Ia mencontohkan widji tukul berkarya  dengan seni puisi dan syair-syairnya. Maka jadikan seni sebagai wadah untuk ber ekspresi menyampaikan jiwa-jiwa kritis kita.

Dalam kegiatan tersebut Hendra Syahputra selaku Pemateri dalam sesi diskusi mengatakan “ mahasiswa hukum harus peka dan kritis terhadap lingkungan social, sebagai mahasiswa hukum dituntut untuk berperan aktif terhadap masalah-masalah social", beliau mencontohkan mahasiswa hukum dahulu bisa menyelesaikan masalah-masalah konfik di gampoeng-gampoeng seperti KDRT, Pelangaran-Pelangaran asusila, dia mengatakan dahulu seorang mahasiswa hukum saat berbicara di halayak ramai dalam penyelasiaian masalah-masalah tersebut  sangat di dengar oleh orang gampoeng tersebut, sebegitu  pentingnya peran mahasiswa-mahasiswa di dalam mengabil keputusan musyawarah di gampoeng-gampoeng mereka. 

Dalam acara tersebut juga menampilkan video documenter perjalanan widji tukul dari kecil hingga menjadi aktivis sampai dia hilang tidak di ketahui keberadaannya. Dalam kegiatan ini Ukm Forkah banyak menampilkan karya-karya wiji tukul dari puisi sampai dengan sajak-sajak suara. Kegiatan ini tidak hanya di hadiri oleh setiap UKM FH USK berserta BEM dan DPM FH USK saja tapi juga mampu mencuri perhatian dari mahasiswa yang penasaran dengan seberapa besarnya nama yang disandang oleh si Widji Thukul ini.

penulis: Nur_Island
editor  : D_Chandra

2 komentar:

  1. Tolong di koreksi, ketua panitia namanya hasyimi pradana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih atas koreksinya,
      maaf sblumnya mngkin trjdi sdkit kelalaian yang berujung pada kslahan dalam penulisan nama panitia acara tersbut, tapi beritanya sudah kami edit dan koreksi, untuk penulisan nama sudah kami perbaiki, jika masi ada kesalahan mohon untuk tidak sungkan melayangkan koreksi lagi kepada kami.
      wassalam.

      Hapus